Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Advertorial

Atasi Kasus DBD, DPRD Samarinda Ingatkan Masyarakat Soal Kebersihan Lingkungan

21
×

Atasi Kasus DBD, DPRD Samarinda Ingatkan Masyarakat Soal Kebersihan Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Sri Puji Astuti, Ketua Komisi IV DPRD Samarinda

Kaltimminutes.co, Samarinda  – Tingginya angka kasus demam beradarah (DBD) yang terjadi di Kalimantan Timur mendapat perhatian dari Anggota DPRD Samarinda.

Diketahui di Kaltim telah terjadi 1.2999 kasus DBD dengan 9 kasus kematian.

Example 300x600

Terkait hal tersbut DPRD Samarinda mengingatkan masyarakat untuk terus menguba polah hidup yang lebih sehat.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti mengatakan kebiasan masyarakat bisa menjadi hal yang lebih sukar ditangani, dibanding mengobati DBD.

Lanjut ia mengatakan, walapun sosialisasi yang dilakukan sudah tepat, namun tidak akan efektif tanpa peran serta dari masyarakat.

“Sudah saatnya masyarakat juga menjaga kebersihan lingkungan. Apalagi saat ini sudah memasuki musim pancaroba,” ujarnya belum lama ini.

Untuk menekan angka DBD Kota Samarinda, Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Samarinda pun sudah rutin melakukan imbauan, termasuk penyuluhan 3M Plus yaitu menutup, menguras, menyingkirkan atau mendaur ulang serta plus seperti, menaburkan bubuk larvasida, menggunakan obat nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk dan lainya.

“Sebagai contoh, di lingkungan saya sendiri banyak tempat yang menjadi potensi sebagai wadah jentik (nyamuk),” ungkapnya.

Sosialiasi dan imbauan tanpa henti yang dilontarkan Sri Puji Astuti bukan tanpa alasan. Sebab menurut dia, masyarakat belum menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, termasuk menjaga kebersihan kamar mandi, dan penampungan air bersih yang kurang diperhatikan kondisi airnya.

“Diimbau tapi kebiasaan masyarakat tidak berubah ya susah. Saya lihat programnya mereka sudah jelas ya, dari kementerian juga sudah jelas untuk menghimbau,” pungkasnya.

Selain 3M plus, para penyuluh juga kerap mensosialisasikan program bernama Jumantik (juru pemantau jentik) yang sudah rutin disuarakan melalui puskesmas dan posyandu. Termasuk pemberian bubuk abate, meski menurutnya cara itu juga kurang efektif.

“Bubuk abate lima bungkus seharga 20ribu, dan dibagikan ke seluruh masyarakat Samarinda, perlu dana berapa lagi,” ucapnya

Oleh karenanya, ia berharap pada masyarakat agar lebih peduli pada kebersihan linkungan.

Terlebih lagi kata dia, masyarakat agar jangan mengabaikan gejala dan pencegahan kasus DBD.

“Butuh penanganan yang cepat. Perhatikan tempat yang potensi sebagai wadah jentik, masyakat harus bekerjasama menekan angka kasus DBD,” pungkasnya.

(Advertorial)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *