Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Ragam

BPBD Tarakan Catat 17 Titik Rumah Rusak Akibat Gempa 4,8 SR, Warga Diminta Tetap Waspada

159
×

BPBD Tarakan Catat 17 Titik Rumah Rusak Akibat Gempa 4,8 SR, Warga Diminta Tetap Waspada

Sebarkan artikel ini
Erik Akbar, Penyuluh Bencana, mewakili Kalaksa BPBD Tarakan saat melaksanakan rilis pers, Kamis (6/11/2025). Foto:Ist

Kaltimminutes.co – Pemerintah Kota Tarakan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merilis data terbaru dampak gempa bumi bermagnitudo 4,8 yang mengguncang wilayah tersebut pada Rabu malam (5/11/2025). Berdasarkan hasil asesmen sementara hingga Kamis (6/11/2025) pukul 11.00 WITA, tercatat 17 titik lokasi rumah warga mengalami kerusakan, dengan kategori mulai dari ringan, sedang, hingga berat.

Data ini disampaikan langsung oleh Erik Akbar, Penyuluh Bencana BPBD Tarakan yang mewakili Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Tarakan, Yonsep, dalam keterangan pers di posko siaga bencana.

“Data ini masih bersifat sementara karena tim kami masih menerima laporan tambahan dari masyarakat. Hingga saat ini, sudah ada 17 titik kerusakan rumah dengan kategori ringan, sedang, dan berat,” ujar Erik.

BPBD melaporkan, wilayah Kecamatan Tarakan Timur menjadi daerah yang paling banyak terdampak gempa. Sejumlah rumah mengalami retak pada dinding, dapur terbelah, hingga ambruk sebagian.

“Kerusakan paling banyak memang di Tarakan Timur. Di sana ada dapur rumah yang terbelah dan satu unit rumah di RT 9 ambruk di bagian samping,” kata Erik.

Sementara itu, kerusakan berat tercatat pada dua rumah warga di Kelurahan Mamburungan dan Kelurahan Gunung Lingkas. Petugas BPBD bersama aparat kelurahan telah melakukan verifikasi lapangan untuk menentukan kebutuhan bantuan darurat.

Selain dua lokasi itu, daerah lain yang juga terdampak gempa mencakup Kelurahan Kampung Empat, Selumit, Kampung Enam, Karang Rejo, Lingkas Ujung, dan Pamusian.

“Kami menerima laporan dari delapan kelurahan berbeda, dengan kondisi rumah bervariasi. Ada yang hanya mengalami retak kecil, tapi ada juga yang rusak parah hingga tidak bisa ditempati,” jelas Erik.

BPBD menegaskan bahwa penanganan awal difokuskan untuk membantu warga yang rumahnya mengalami kerusakan parah dan tidak bisa ditinggali. Tim gabungan telah mendirikan posko darurat serta menyiapkan tenda sementara bagi korban terdampak yang kehilangan tempat tinggal.

“Kami lebih fokus ke rumah warga terlebih dahulu karena sifatnya mendesak. Untuk fasilitas umum (fasum), sejauh ini baru satu yang terdata mengalami kerusakan, yaitu di kawasan TACC,” ungkap Erik.

BPBD juga mengkoordinasikan pendataan bersama Dinas Sosial dan TNI-Polri untuk menyalurkan bantuan logistik dasar, termasuk kebutuhan pangan, air bersih, dan perlengkapan tidur bagi warga yang mengungsi sementara.

“Skala prioritas tetap kami utamakan untuk warga terdampak langsung. Semua pihak bergerak cepat sejak malam gempa terjadi,” tambahnya.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya satu orang warga di Kelurahan Mamburungan yang dilaporkan mengalami luka ringan akibat tertimpa reruntuhan saat berusaha keluar rumah ketika gempa mengguncang.

“Tidak ada korban meninggal dunia. Hanya satu korban luka ringan yang sudah ditangani oleh tim medis dan kondisinya kini stabil,” ujar Erik.

Meskipun begitu, BPBD mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. Sejumlah daerah di pesisir Tarakan disebut masih berisiko mengalami getaran lanjutan akibat pergeseran sesar lokal.

Setelah gempa terjadi pada Rabu malam, pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda langsung melakukan rapat koordinasi darurat. Tim BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PLN, serta Dinas PUPR bergerak cepat melakukan pemeriksaan di lapangan.

“Semua stakeholder sudah bergerak cepat sejak malam tadi untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Kami pastikan tidak ada gangguan terhadap jaringan listrik, air bersih, dan layanan publik lainnya,” kata Erik.

Selain itu, PLN Tarakan memastikan pasokan listrik kembali normal pada Kamis pagi setelah sempat dilakukan pemadaman sementara di beberapa titik untuk alasan keamanan.

BPBD Tarakan mengaku telah rutin melakukan sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat. Hanya dua hari sebelum kejadian, lembaga ini baru saja mengadakan penyuluhan mitigasi bencana di sekolah dan gedung pertemuan, termasuk di Swis-Belhotel Tarakan.

“Kami memang baru melakukan penyuluhan lusa kemarin. Kesiapsiagaan masyarakat cukup baik karena sebagian besar warga langsung keluar rumah saat gempa terjadi,” jelas Erik.

Ia menambahkan bahwa BPBD akan memperkuat program edukasi bencana ke depannya, terutama di kawasan padat penduduk dan permukiman di atas tanah gambut yang rentan terhadap getaran.

Hingga Kamis siang, tim BPBD masih terus melakukan asesmen lanjutan di sejumlah wilayah, terutama di bagian pesisir dan kawasan padat permukiman. Data jumlah rumah terdampak disebut masih bisa bertambah seiring laporan yang masuk dari kelurahan dan RT.

“Kami minta masyarakat segera melapor jika menemukan kerusakan di sekitar lingkungan. Data sementara 17 titik ini kemungkinan akan bertambah,” ujar Erik.

Pemerintah Kota Tarakan juga telah menyiapkan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah ini mencakup bantuan material bangunan dan pendampingan bagi warga yang terdampak berat.

Gempa 4,8 SR yang mengguncang Tarakan menjadi pengingat penting tentang kerentanan wilayah pesisir Kalimantan Utara terhadap aktivitas seismik. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, dampaknya cukup signifikan terhadap infrastruktur permukiman warga.

Pemerintah dan masyarakat kini dihadapkan pada tugas bersama memperkuat kesiapsiagaan, memperbaiki rumah yang rusak, dan memastikan mitigasi bencana menjadi budaya di setiap lapisan masyarakat.

(Redaksi)

Example 300250
Example 120x600