Home / Hukrim

Jumat, 13 Agustus 2021 - 18:35 WIB

Berawal dari Bisnis Solar Laut, Ketua Komisi III DPRD Kaltim dan Istri Dilaporkan ke Polisi

Irma Suryani didampingi kuasa hukumnya Jumintar Napitupulu saat menjelaskan duduk perkara piutang Rp2,7 miliar

Irma Suryani didampingi kuasa hukumnya Jumintar Napitupulu saat menjelaskan duduk perkara piutang Rp2,7 miliar

Kaltimminutes.co, Samarinda – Kasus penipuan cek kosong yang diduga dilakukan Ketua Komisi III DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud masih terus bergulir.

Bahkan, kasus yang saat ini telah ditangani Satreskrim Polresta Samarinda telah masuk tahap penyidikan.

Usut punya usut, diketahui jika perkara ini bermula dari persoalan kedua belah pihak yang menjalin kerja sama bisnis solar laut.

Saat dikonfirmasi awak media, pihak terlapor yang memberikan aduan dasar cek kosong pelunasan piutang senilai Rp2,7 miliar, yakni Irma Suryani mengatakan, jalur hukum yang ditempuh merupakan jalan keluar satu-satunya.

Agar dapat menyelesaikan masalah utang-piutang dengan sahabatnya Nurfaidah, yang juga merupakan istri dari Hasanuddin Mas’ud.

“Saya sudah sabar menunggu masalah utang ini diselesaikan. Dari tahun 2017 saat cek giro diberikan dia (Nurfaidah), ternyata itu tidak bisa dicairkan,” ungkap Irma saat didampingi penasihat hukumnya di kediamannya di Jalan S Parman, Sungai Pinang. Jum’at (13/8/2021).

Irma menjelaskan, memang saat ini dirinya sudah memegang beberapa sertifikat tanah serta rumah milik Nurfaidah dan Hasanuddin Mas’ud sebagai jaminan.

Namun, dirinya bersikeras, agar uang sebesar Rp2,7 miliar bisa segera dibayarkan.

“Saya enggak butuh surat tanah dan rumah itu, enggak bisa dicairkan. Yang saya mau uang saya kembali,” tekannya.

Disinggung mengenai uang jumlah besar tersebut berasal dari utang piutang apa, Irma membeberkan, bahwa dirinya bersama terlapor sebelumnya menjalankan bisnis barang branded dan dan perhiasan.

Lalu di 2016 kedua belah pihak ini menjalankan bisnis solar laut.

“Rp 2,7 miliar itu saya pinjamkan untuk bisnis solar laut sesuai perjanjian. Namanya  sahabat saya percaya aja,” bebernya lagi.

Irma berharap masalah utang-piutang ini bisa segera selesai. Pasalnya duit sebesar itu sangat dibutuhkan Irma di masa pandemi Covid-19 seperti ini.

Baca Juga :  Chatting WA Jadi Bukti Pelapor Polisikan Pendiri Kaskus Terkait Pemalsuan Dokumen

Menanggapi isu yang beredar, pasca menyeruaknya kasus yang tengah menyeret Hasanuddin Mas’ud, merupakan untuk menjegal politisi partai Golkar itu maju sebagai Ketua DPRD Kaltim menggantikan Makmur HAPK. Irma Suryani langsung membantahnya.

Baginya dugaan itu cuma omong kosong. Pasalnya, dia merasa urusannya ini murni  masalah bisnis. Soal polemik politik yang sedang bergulir menurutnya hal itu hanyalah kebetulan.

“Ini yang sampai sekarang buat saya bingung. Kenapa harus dikaitkan dengan masalah politik? Ini murni urusan bisnis,” ucapnya.

Lanjut Irma, dirinya bahkan telah melaporkan perkara ini sejak 1 tahun empat bulan silam.

Jadi persoalan yang menyangkut permasalahan politik tentu ia bantah sebab di luar perosalan bisnisnya.

“Sedangkan permasalahan politik dia itu baru-baru aja. Ya masa segitunya disangkut pautkan, ini hal yang tidak masuk akal,” sambungnya.

Seperti diketahui, Irma tak hanya sekali berperkara dengan politikus Golkar. Ia juga pernah melaporkan Sapto Setyo Pramono Anggota Komisi II DPRD Kaltim ke Polresta Samarinda tahun lalu.

Sapto kala itu dilaporkan dengan tuduhan penggelapan Rp1,5 miliar. Namun tidak dijelaskan, untuk apa dan mengapa Irma Suryani menitipkan uang kepada Sapto Setyo Pramono.

Disinggung mengenai kedua kasus tersebut, dirinya menjelaskan memang kenal dengan beberapa anggota partai. Namun, batasannya hanya sebagai rekan bisnis semata.

“Urusan saya bisnis. Saya bukan politisi loh, dan saya tidak tertarik dengan poltik,” tegasnya.

Ditambahkan Kuasa Hukumnya, Jumintar Napitupulu bahwa sejak 2016, Hasanuddin Mas’ud beserta istrinya meminjam dana kepada Irma sebesar Rp2,7 miliar.

Uang sebesar itu digunakan untuk modal bisnis solar Laut. Dengan syarat yang di janjikan oleh Hasan, ada fee untuk Irma sebagai pemberi uang. Berkisar 40 banding 60 persen.

“Ada fee yg dijanjikan, 40-60. 40 ke klien kami sebagai pemilik uang terus kemudian 60 di dia yg mengurisi segala bisnis solar itu tadi, Itukan berjalan dalam jangka 4 bulan ke depan” imbuhnya

Baca Juga :  Dalami Kasus Persetujuan Pengurusan Dana Insentif Daerah, KPK Periksa Eks Bupati Tabanan

Namun pada pada perjalanannya hingga akhir 2016 fee yang di janjikan tidak terdengar. Irma pun disebut harus mengalami kerugian lantaran dananya tertahan.

Lanjutnya, kliennya itupun sudah tidak membicarakan fee yang di janjikan Hasan dan Istrinya. Ia hanya berharap agar modalnya sebesar Rp2,7 miliar, dapat segera di gantikan

“Saat klien kami sudah tidak peduli dengan fee, gara gara itu di sanggupi. Diberikan cek. Cek dari bank Mandiri. Cek itu nominal Rp2,7 miliar. Tapi pada saat itu cek itu bisa di cairkan tanggal 20 Desember, tapi tetap juga mereka minta ke klien saya agar cek itu jangan dicairkan dulu,” papar Jumintar.

Berjalannya waktu hingga berganti tahun, di 2017, akhirnya Irma coba melakukan Kliring cek pertama di salah satu Bank swasta di Samarinda.

Namun, hingga 3 kali percobaan kliring dengan hari yang berbeda beda, membuahkan hasil yang sama. Cek yang diberi pihak Hasan, dinyatakan kosong dengan laporan yang diberikan oleh pihak Bank kepada Irma.

“Saat tahu cek nya kosong, klien kami memang  berniat segera melapor, tapi karena kasihan, ini kan sudah teman dekat sudah seperti keluarga. Sudah kenal dari tahun 2010, untuk menjaga silaturahmi itu tadi ya tidak di lapor. Ditahan dulu ini, ada itikat baik tidak. Sampai tahun 2020, itu tidak ada. Baru lah di lapor di 9 April 2020,” pungkasnya.

Sementara itu, tim redaksi hingga berita ditulis, masih lakukan konfirmasi kepada pihak Hasanuddin Mas’ud. Belum ada jawaban yang didapatkan. Tim redaksi akan update informasi lanjutan saat Hasanuddin Mas’ud memberikan respon. (*) 

Share :

Berita Terkait

Hukrim

Sekretaris Bappeda Kutim Diperiksa KPK, Perkembangan Kasus Dugaan Korupsi Bupati Kutim

Hukrim

Sakit Hati Gegara Digugat Cerai, Seorang Pria di Samarinda Sebar Video Bercinta Sama Istrinya

Hukrim

Dua Orang Diciduk, Polisi Temukan Enam Poket Sabu dari Tersangka

Hukrim

Kasus Prostitusi Anak Dibawah Umur di Samarinda, Muncikari Terancam Kurungan 15 Tahun Penjara

Hukrim

Ibu Korban Tangkap Sendiri Pelaku Pencabulan Anaknya, Ini Alasannya

Hukrim

Perempuan Ini Kredit Mobil Pakai Duit Perusahaan, Ternyata Pemalsuan Tanda Tangan

Hukrim

Akibat Kasus Penganiayaan Muhammad Kace, Dua Petugas Rutan Diberi Sanksi

Hukrim

Dalami Motif Pembunuhan Perempuan Asal Kutim, Polisi Lakukan Autopsi Uji DNA Orang Tua