Home / Hukrim

Kamis, 11 Maret 2021 - 19:30 WIB

Dua Tersangka Pemalsuan Data SIM Card, Terancam 12 Tahun Penjara

FOTO : Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Yuliansyah saat menggelar hasil ungkapan pemalsu kartu perdana

FOTO : Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Yuliansyah saat menggelar hasil ungkapan pemalsu kartu perdana

Kaltimminutes.co, Samarinda – Usai diringkus dan dibekuk jajaran Satreskrim Polresta Samarinda pada Senin (8/3/2021) malam lalu, JC (37) fan AF (21) yang memalsukan data registrasi sim card kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Keduanya pun kini dijerat pasal berlapis. Oleh kepolisian JF selaku pemilik konter ponsel J Cell di Jalan KS Tubun, Kecamatan Samarinda Ulu dan karyawannya, AF disangkakan pasal 51 ayat 1 juncto pasal 35 UU RI No 19/2016 tentang perubahan UU RI No 11/2008 tentang ITE dan pasal 94 juncto pasal 77 UU RI No 24/2013 tentang perubahan atas UU No 23/2006 tentang administrasi kependudukan.

“Ancamannya pasal ITE itu sampai 12 tahun penjara dan dendan hingga Rp12 miliar,” tegas Kasat Reskrim Polresta Samarinda, Kompol Yuliansyah saat dikonfirmasi, Kamis (11/3/2021).

Ditanya lebih jauh mengenai sindikat pemalsuan data registrasi sim card ini, Yuliansyah belum bisa mengungkapkan lebih jauh. Sebab, hingga saat ini jajaran kepolisian masih terus melakukan pengembangan kasus.

Baca Juga :  Awas Kena Tipu, Ada Akun Isran Noor KW di Facebook

“Sejauh ink meraka (JC dan AC) hanya berdua. Kami masih terus melakukan pengembangan,” tambahnya.

Begitu pun para sindikat penjual data diri yang berhasil dibeli para pelaku melaui interaksi online. Para penjual ini pun saat ini masih diselidiki pihak kepolisian.

Diwartakan sebelumnya, pencurian dan pemalsuan data sim card ini diduga memiliki hubungan dengan para pelaku penipu bermodus “mama minta pulsa”. Kedua pelaku yang diamankan ialah JC (37) selaku pemilik konter ponsel J Cell di Jalan KS Tubun, Kecamatan Samarinda Ulu dan AF (21) yang merupakan karyawannya.

Dari bilik konter ponsel itu, pelaku telah melakukan pemalsuan data registrasi salah satu provider telekomunikasi ternama berbendera merah sejak 2018 lalu. Dari tangan kedua pelaku, sedikitnya polisi menyita barang bukti berupa 66 ribu kartu perdana, yang mana 50 ribu di antaranya telah teregistrasi dengan data palsu yang dibeli JC melalui sindikat lain secara online dengan nilai Rp200 per datanya.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Suap yang Menjerat Bupati Bogor Ade Yasin, KPK Sita Uang Rp1,024 Miliar

Untuk melancarkan aksinya, JC dan AF menggunakan beberapa alat bantu, seperti mesin modem pool, yang dapat meregistrasi kartu perdana secara massal. Dari alat tersebut, JC dan AF mengoperasikannya dengan cara memasukan kartu perdana, kemudian disambungkan ke flashdisk berisi data yang hendak diplasukan melalui CPU.

Untuk mengkawinkan data dengan sim card para pelaku menggunakan aplikasi Smart ACT. Dari kerja keduanya, setiap hari diperkirakan mereka mampu melakukan registrasi sim card hingga 1.000 kartu yang dijual seharga Rp10 ribu, hingga Rp20 ribu per buahnya. (*)

Share :

Berita Terkait

Hukrim

Surati Bupati Abdul Gafur Masud, KPK Minta Inspektorat Pemkab PPU Lakukan Audit Sejak Awal untuk Mencegah Risiko Korupsi

Hukrim

Aksi Unjuk Rasa Penolakan Tambang Emas di Sulteng Berujung Maut, 1 Orang Warga Tewas Tertembak

Hukrim

11 Saksi Diperiksa Polresta Samarinda, Disebut Terkait Kasus Korupsi Bupati Kutim

Hukrim

Dugaan Kasus Cek Kosong Menjerat Hasanuddin Mas’ud, Pengamat Hukum Unmul Sebut Sudah Berada dalam Ranah Penipuan

Hukrim

Usai Jalani Pemeriksaan Terkait Kasus Binomo Indra Kenz, Vanessa Khong dan Ayahnya Ditahan Bareskrim Polri

Hukrim

Perekrut Indra Kenz di Binary Option Ditahan, Polisi Khawatir Tersangka Menghilangkan Barang Bukti

Hukrim

Kasus Eskpor Minyak Sawit Mentah, Dirjen Kementerian Perdagangan Jadi Tersangka

Hukrim

KPK Eksekusi Pemberi Suap Bupati Kuansing ke Lapas Sukamiskin, Akan Menjalani Pidana Penjara Selama 2 Tahun