Home / Ragam

Kamis, 20 Januari 2022 - 13:02 WIB

Menaker Ungkap Hambatan Perempuan Berdaya Saing di Lingkungan Kerja, Salah Satunya Gender Shaming

Ilustrasi diskriminasi pekerja perempuan  (Sumber foto: Suara.com)

Ilustrasi diskriminasi pekerja perempuan (Sumber foto: Suara.com)

Kaltimminutes.co – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah mengungkapkan beberapa hal yang menjadi hambatan untuk para perempuan berdaya saing di lingkungan kerja.

Hambatan tersebut mulai dari beban ganda hingga kekerasan dan pelecehan yang dihadapi perempuan di tempat kerja.

Salah satu yang menjadi penghambat adalah Gender Shaming atau seksisme. Hal ini dianggap menjadi akar deskriminasi berbasis gender bagi perempuan.

Perilaku ini menyebabkan perempuan sering kali diremehkan di tempat kerja bahkan dianggap penghambat dan dinilai memiliki produktivitas lebih rendah.

“Hal ini kontraproduktif dengan tujuan kita semua, untuk terus meningkatkan pemberdayaan perempuan di dunia kerja agar bisa memberikan dampak positif pada perekonomian dari level individu, keluarga hingga negara,” kata Ida Fauziyah, Jakarta, Jawab (19/1).

Baca Juga :  Temukan Cacar Monyet di Indonesia, Kemenkes Sebut Berpotensi Jadi Pandemi Baru

Ia kemudian lanjut mengungkapkan jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 140 juta orang. Dari jumlah tersebut hanya pekerja perempuan hanya sekitar 40 persen.

Hal tersebut disebabkan angka Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan masih berada jauh di bawah laki-laki yakni, TPAK laki-laki sebesar 82,27 persen dan perempuan hanya sebesar 53,34 persen.

“Selain hanya menunjukkan peningkatan kecil dalam beberapa tahun terakhir, angka TPAK Perempuan kita juga masih di bawah beberapa negara pesaing terdekat kita seperti Vietnam dan Thailand,” ujar Menaker Ida.

Menaker Ida menambahkan, data ketimpangan bagi perempuan juga sudah terlihat dalam aspek pendidikan yang menjadi modal dasar untuk berdaya di dunia kerja. Persentase angkatan kerja perempuan yang berpendidikan rendah (SMP ke bawah), lebih besar dibandingkan laki-laki.

Baca Juga :  Deteksi Covid-19 Lebih Cepat, Pemkot Samarinda Uji Coba Alat GeNose

“Sedangkan untuk angkatan kerja dengan tingkat pendidikan menengah (SMA dan SMK), persentase perempuan justru lebih rendah dibandingkan laki-laki,” kata Menaker Ida.

Ia lanjut mengatakan saat ini pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kesetaraan gender.

“Salah satu targetnya yakni untuk meningkatkan TPAK perempuan hingga mencapai angka 55 persen pada tahun 2024,” katanya.

Ida mengatakan pemerintah terus berkomitmen untuk mendukung pemberdayaan perempuan ditempat kerja yakni dengan melindungi dan memberikan rasa aman bagi perempuan di lingkungan kerja.

Mulai dari hak di bidang reproduksi, hingga hak dalam hal K3, kehormatan dan pengupahan,” pungkasnya.

(*)

Share :

Berita Terkait

Ragam

Suasana Pandemi, Peserta dan Undangan Upacara HUT Kemerdekaan RI di Kaltim Akan Dibatasi

Ragam

Soal Nurhayati Ditetapkan sebagai Tersangka, ICW Kritik Polres Cirebon 

Ragam

Diberi Kesempatan Berbenah, Gubernur Kaltim Komitmen Siapkan Fasilitas Guna Tarik Investor di KEK Maloy
Andi Harun, Walikota Samarinda/ IST

Ragam

Andi Harun Terpilih di Samarinda, Sekjen Gerindra Nilai Jadi Bukti Kepercayaan Rakyat

Ragam

Pemprov Kaltim Gelar Musrenbang, DPRD Singgung Soal Kesepahaman Bersama

Ragam

5 Kombinasi Sarapan untuk Anda yang Lagi Diet, Apa Saja?

Ragam

Satu Orang Dinyatakan Hilang, Diduga Kecelakaan Kapal di Sungai Mahakam

Ragam

Pemberangkatan Jamaah Umrah 2021 Berpeluang Ditunda, Pemerintah Fokus Tangani Libur Nataru