Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Politik

PDIP Nilai Gibran Pakai Strategi yang Pernah Dilakukan Jokowi di Debat Cawapres, Hasto: Seharusnya Tak Perlu Dilakukan

20
×

PDIP Nilai Gibran Pakai Strategi yang Pernah Dilakukan Jokowi di Debat Cawapres, Hasto: Seharusnya Tak Perlu Dilakukan

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto

Kaltimminutes.co — Komisi Pemilihan Umum (KPU) kembali menggelar debat kedua Pilpres 2024.

Kali ini, para calon wakil presiden (cawapres) yang beradu gagasan dalam debat yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center pada Jumat (22/12/2023) malam.

Example 300x600

Dalam debat cawapres ini, PDI Perjuangan atau PDIP menilai strategi cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka mengikuti langkah yang pernah dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal ini sebagaimana disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto. Ia menyampaikan ini merespon sikap Gibran  dalam debat perdana cawapres yang memberikan pertanyaan State of the Global Islamic Economy (SGIE) atau posisi ekonomi syariah Indonesia secara global kepada cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar.

“Ini kan suatu pengulangan dari apa yang dilakukan Pak Jokowi pada tahun 2014 ke Pak Prabowo dan Hatta,” kata Hasto di JCC, Jakarta Pusat, Jumat (22/12/2023).

Hasto mengatakan pertanyaan jebakan semacam itu seharusnya tak perlu dilakukan oleh seorang calon pemimpin Indonesia.

“Sehingga ini adalah question trap yang kemudian seharusnya tidak perlu dilakukan, karena tujuan kita adalah untuk mencapai suatu gagasan yang terbaik dari para cawapres sebagai pendamping presiden di dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Terlepas dari itu, Hasto mengaku puas dengan penampilan jagoannya, yakni cawapres nomor urut 3 Mahfud MD.

“Kalau kami lihat monitoring dari sosial media, maka Prof Mahfud itu memiliki restriksi yang paling kecil dan kemudian tidak pernah melakukan serangan jebakan itu.”

“Itu tidak pernah dilakukan karena panggung yang dipakai Prof Mahfud adalah panggung pengalaman, panggung komitmen, panggung kemanfaatan dari kebijakan pemerintah untuk kepentingan wong cilik,” katanya.

Sementara, kata dia, penampilan Gibran terkesan seperti hafalan dan bukan tercipta murni dari pemikirannya.

“Ini yang membedakan. Sementara mas Gibran lebih banyak ke textbook,” pungkasnya.

(*)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *