Home / RasaKata

Jumat, 7 Februari 2020 - 22:18 WIB

Sebuah Catatan Erlyando Saputra Tentang Refleksi Milad ke-73 HMI

“Kadang kita jengah dengan ide-ide besar, namun minim aksi dan strategi. Narasi besar namun tanpa misi. Harapan besar tapi berhenti pada kepentingan jangka pendek. Semua itu seperti gema yang memantul mantul yang tak di temukan sumbernya suara”

Begitulah, kondisi organisasi hari ini, dalam contohnya yang paling dekat bisa saya lihat adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

 

Erlyando Saputra

————–

Kaltimminutes.co, Samarinda – Sudah banyak buka sejarah yang menampilkan setting dan babak bagaimana HMI didirikan serta kiprahnya bahkan seorang pendeta Viktor Tandja pun ikut menulis buku tentang HMI. Belum lagi karya H. Agusalim Sitompul sejarahwan HMI yang lengkap memotret tiap peristiwa dari zaman ke zaman. Ada pula buku – buku Alfan Alfian ilmuan politik HMI banyak mengupas soal kekinian.

Ada yang terbaru yakni gambaran pendirian HMI dan dinamika sejarahnya yang dibahas renyah dalam novel “Merdeka Sejak Hati” yang menceritakan kisah hidup Lafran Pane salah satu pendiri HMI.

Novel merdeka sejak hati yang di tulis A. Fuadi bukan kisah yang mengada ngada, melainkan biografi yang ditulis dari riset sumber sumber otentik. Dalam novel tersebut saya menemukan 2 kunci sejarah awal didirikan HMI. Pertama adalah alasan sederhana, kedua adalah keteladanan sederhana.

Pertama alasan sederhana, Lafran Pane pendiri HMI melihat secara sederhana bahwa perlu adanya organisasi Mahasiswa Islam untuk mengakomodir aspirasi aspirasi mahasiswa islam, seperti di kampusnya belum ada tempat beribadah yang memadai untuk salat mahasiswa – mahasiswa Islam serta membuat kegiatan – kegiatan ke Islaman.

Padahal kampus tersebut adalah Sekolah Tinggi Islam (STI). Gagasan itu sangat sederhana namun ternyata punya daya gedor yang kuat, meminjam istilah Yudi Latif “Idenya Keras”.

Ide Lafran Pane sederhana namun keras pengaruhnya, sehingga membuat kelompok – kelompok mahasiswa dan pemuda pada masa itu menolaknya.

Lafran Pane dianggap sebagai pemecah belah, elite Masyumi berfikir Lafran ditunggangi kekuatan nasional dan sosialis karena tindakannya memecah pemuda dan mahasiswa Islam dari dalam, sedangkan kaum nasional dan sosialis menganggap gagasannya itu adalah bagian dari manuver Masyumi untuk mengurangi dominasi sayap sayap nasional dan sosialis di ruang kampus.

Baca Juga :  Kartini Inspirasi Milenial

Kedua keteladanan sederhana, keteladanan adalah contoh hidup dari satu misi dan gagasan. Tanpa keteladanan ide itu menjadi kering dan menjadi berhala mercusuar, harus ada contoh pribadi yang bisa di ceritakan dalam setiap generasi.

Lafran Pane mendirikan HMI dengan keteladanan sederhana. Sebenarnya Lafran lahir dari keluarga yang mapam dan terpandang. Kakek dan ayahnya adalah orang yang di hormati di Sumatera Barat, kakak kakaknya pun di kemudian hari menjadi orang terpandang, Armin Pane dan Sanusi Pane. Namun pendiri HMI itu lebih senang mencari jawaban jawaban atas kegelisahannya. Dia pembela orang orang lemah sejak masih belia,  dia teguh terhadap pendirian dan kebenaran yang diyakininya, bahkan di kemudian hari di saat punya posisi bagus sebagai elit mahasiswa tidak ada upaya untuk mencari kekayaan.

Pada saat telah alumni pun dan kader kadernya sudah berada pada posisi penting di negara ini, dia menolak semua tawaran jabatan. Lafran mengawal ide dan gagasannya dengan Keteladanan Sederhana. Mungkin dengan kesederhanaan itu beliau merasakan nikmatnya kekayaan.

Pada Milad HMI Ke 73 ini, kita kembali merenung bagaimana ide dan gagasan hari ini, apakah kita HMI masih saja berkutat dengan gagasan yang terlampau besar, namun tak mampu di capai dalam kurun waktu tertentu.

Kita sering bersembunyi dalam misi HMI dalam mencapai Ridho Allah SWT. Namun hal tersebut lebih sering dimaknai hanya bisa tercapai kalau kita sudah mati, lebih ektrim lagi sampai hari kiamat dan pembalasan, baru kita tahu Allah SWT sudah meridhoi perjuangan kita atau belum.

Padalah sebuah misi itu punya parameter keberhasilan atau kegagalan. Misi HMI adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam, bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT.

Buku 44 Indikator kemunduran HMI sudah terang merekam parameter parameter dari Misi HMI termasuk memberi alarm peringatan akan kemunduran HMI. Tinggal sejauh apa komitmen dalam implementasinya baik secara organisasi maupun pribadi.

Marilah di Milad HMI Ke 73 ini kita teladani 2 hal yang telah di lakukan Lafran Pane pendiri HMI, mulai dari Ide Sederhana dan Keteladanan Sederhana. Mulailah dengan ide ide sederhana yang bisa berdampak luas, mulailah diskusi sedikit namun bermakna banyak, lakukan yang sudah direncanakan dan rencanakan apa yang akan di lakukan.

Baca Juga :  Hadi Mulyadi Usulkan Ada Slot Beasiswa untuk Wartawan

Bukan hanya di HMI namun di masyarakat di lingkungan keluarga, RT, Kelurahan Desa, Kecamatan, Daerah sampai pusat. Kemudian jadilah figur teladan yang kata- kata kita, tindakan dan aktivitas kita bisa menjadi pedoman orang lain. Kita sendiri adalah contoh hidup dari ide dan gagasan kita.

Jika HMI ibarat sebuat panggung pertunjukan, maka lampunya jangan hanya menyorot aktor aktor atau kader politik semata, jangan hanya men”zoom” mereka yang ada di legislatif dan eksekutif yang adalah alumni HMI, tapi lampu itu sorotkan pula pada mereka yang pulang ke kampung kampung untuk membangun kampung, dusun, desa.

Mereka yang kader HMI dan telah menyebar kepelosok pelosok nusantara membangun masyarakat dari struktur dan lingkungan terkecil, mereka menjadi guru pengajar bagi anak anak pedalaman, mereka menjadi dokter yang membantu orang miskin, mereka yang melakukan pemberdayaan pada petani dan buruh yang perlu penguatan akan hak dan kewajibannya. Mereka yang membangun peradaban dari kampus kampus dan ruang kajian.

Kabarkan bahwa kader kita mampu mengabdi dengan kesederhanaan dan keteladanan.  Pada akhirnya kader HMI senantiasa di tuntut melakukan transformasi di masyarakat, tranformasi itu bisa di lakukan dengan membangun ide ide sederhana serta keteladanan dan punya dampak besar yang bermanfaat bagi masyarakat.

Seperti kata Buya Syafie Maarif yang dikutip dalam buku Rethinking HMI Values mengatakan Bahwa HMI adalah Anak Sejarah Bangsa. Mudah mudahan sejarah bangsa itu, mencatat bahwa anak anaknya telah menorehkan kiprah yang kongkret dari masa ke masa.

Selamat Milad HMI ke 73, salam dari Kutai Kartanegara Ibukota Negara Republik Indonesia yang akan datang. (*)

 

Penulis adalah Ketua KPU Kukar saat ini. Pernah pula menjabat sebagai Ketua Badko HMI Kaltimtara 2016 – 2018

Share :

Berita Terkait

RasaKata

Teater di Tengah Pandemi?

RasaKata

Kartini Inspirasi Milenial

RasaKata

Toleransi dan Cinta Dalam Pandemi Corona

RasaKata

Jalani Pancasila Seperti Air Mengalir

RasaKata

Politik Kita Tidak Didesain Untuk Melindungi Publik dari Covid-19