Home / RasaKata

Sabtu, 4 April 2020 - 23:02 WIB

Politik Kita Tidak Didesain Untuk Melindungi Publik dari Covid-19

 

Itu ujaran kolumnis Guardian, George Monbiot dalam satu artikelnya tengah Maret lalu.

Donald Trump adalah presiden hasil pemilu AS yg dikenal sebagai “Pembantah” konsep pemanasan global dan perubahan iklim, ia menyebut perubahan iklim hanya agenda terselubung para saintis dan strategi China membatasi industri manufaktur AS.

Merah Johansyah

///

Di Indonesia, awal tahun 2019 sebuah survei oleh komunitas YouGov menempatkan Indonesia tempat teratas bagi kebanyakan orang yang tidak percaya perubahan iklim.
Sebagian besar menganggap isu iklim adalah konspirasi.

Luhut Binsar Panjaitan contohnya, elit politik yang menjabat sebagai “Perdana Menteri” ini bahkan pernah secara picik mengancam menarik Indonesia dari kesepakatan Iklim Paris karena kebijakan Uni Eropa yang mempermasalahkan sawit dari Indonesia.

Wajar saja jika peristiwa itu berulang di saat Pandemi Covid-19 saat ini.

Dimulai dari polah Presiden Jokowi yg terlalu santai, menganggap remeh saat pandemi bermula. Kebijakannya malah mengundang wisatawan, memberikan paket miliaran bagi buzzer untuk kampanye wisata dan mengundang semua orang masuk ke Indonesia, justru mendebarkan karena itu dilakukan saat semua negara lain bersiap menghadapi ancaman Covid-19.

Baca Juga :  Jalani Pancasila Seperti Air Mengalir

Akhirnya persiapan kedodoran dan korban bahkan petugas medis berperang dengan tangan kosong berguguran.

Termasuk sikap keras kepala Luhut, yang tetap memasukkan Tenaga Kerja Asing (TKA) demi Proyek Investasi Tambang di Sultra dan Halmahera di tengah intaian pandemi.

Atau statemen sejumlah elit lainnya, banyak statemen kontroversial seperti “corona tidak akan masuk Indonesia karena berbeda cuaca” atau “karena orang Indonesia makan nasi kucing” hingga “anjuran banyak berdoa saja” semuanya adalah suara dari sikap anti sains yang merupakan produk dari sistem politik kita.

Jadi, jejak elit Indonesia yg anti sains, produk sistem politik kita banyak bertaburan, politik kita memang tidak dipersiapkan untuk melindungi keselamatan publik dari bencana iklim termasuk pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Toleransi dan Cinta Dalam Pandemi Corona

Bukan cuma di Jakarta, di daerah, jumlah dan contohnya lebih banyak lagi, di Kalimantan Timur misalnya, Gubernur Kaltim, Isran Noor terekam dibanyak media mengatakan dengan entengnya bahwa penyebab anak-anak terus tewas di lubang bekas tambang batu bara yang tidak direklamasi adalah akibat ada hantunya, bukan karena abainya tanggungjawab reklamasi perusahaan.

Atau statemen terbarunya yang mengatakan wabah Covid-19 ini akan berhenti dengan sendirinya akhir Maret lalu.

Benar saja monbiot, politik kita justru di desain menghasilkan para pembantah, si picik dan orang-orang keras kepala. Orang-orang ini hanya butuh anda, jika masih bertahan hidup dari pandemi guna diajak kembali memilih mereka di bilik suara di Pilkada atau Pemilu, berikutnya lagi dan lagi.

Masihkah anda terus bersedia?, saya sudah lama memilih tidak.

__________

Penulis adalah Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)

Share :

Berita Terkait

RasaKata

Toleransi dan Cinta Dalam Pandemi Corona

RasaKata

Teater di Tengah Pandemi?

RasaKata

Jalani Pancasila Seperti Air Mengalir

RasaKata

Kartini Inspirasi Milenial

RasaKata

Sebuah Catatan Erlyando Saputra Tentang Refleksi Milad ke-73 HMI