Home / RasaKata

Minggu, 28 Maret 2021 - 21:57 WIB

Teater di Tengah Pandemi?


 

Teater adalah cara yang istemewa menjadi manusia. Memahami seluruh perasaan dan rupa manusia.

Senang sekali rasanya menikmati suguhan tulisan dari adinda Risti Gyro, sederhana tapi banyak rasa yang bisa diecap.

-Redaksi Kaltimmlinutes

 

//

 

Sebuah tulisan dari Risti Gyro
Penulis adalah Sekretaris UKM Teater Yupa Unmul

 

Dini hari, seseorang melontarkan pertanyaan kepada saya mengenai kemungkinan tetap berteater di tengah pandemi. Saya hanya mengangkat bahu seraya menghela nafas.

Jawaban yang agak malas-malasan, kebiasaan jika ditanya sesuatu yang kurang disukai, kurang diketahui atau kurang dikuasai. Maksudnya kurang lebih seperti “Ya, begitu deh,

Padahal kalau dipikir-pikir, pertanyaan ini jelas menggambarkan pahitnya kebuntuan cara berpikir dan cara berbuat. Kelihatannya satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah menunggu dan berharap datangnya tanda-tanda kehidupan. Sekalipun sengsara, menyakitkan dan penuh pengorbanan.

Baca Juga :  Pentaskan "Sandiwara" Lewat Daring, Teater Yupa Unmul Tutup 2020 dengan Pentas Tahunan

Karya-karya kini lahir bukan karena renungan, tapi merupakan sebuah kebutuhan berekspresi. Luapan emosi yang terkukung di dalam diri, ikut terbatasi oleh situasi yang tidak tahu kapan habisnya ini. Hadir membanjir, meneror, mengguncang-guncang, sesuai dengan gejolak dan dinamika di tengah keterbatasan.

Kesulitannya adalah ketika suatu teater atau pengkaryaan teater harus dibatasi ruang geraknya. Bukan soal ide, tapi soal proses kebersamaannya.

Tidak berlebihan rasanya jika saya turut berpendapat bahwa naskah drama untuk menjadi sebuah karya teater harus menjalani proses transformasi yang panjang dan kompleks. Digarap oleh banyak orang dalam suatu perenungan bersama.

Ketika tampil di pentas, para penggiat teater secara kreatif mengajak penontonnya menafsirkan naskah kedalam berbagai perspektif garapan. Ketika menggarap naskah ke dalam seni pertunjukan teater, yang penting bukan hanya situasi romantis di atas panggung.

Baca Juga :  Jalani Pancasila Seperti Air Mengalir

Tapi juga geliat-geliat tajam yang menyoroti keromantisan panggung tersebut. Pertunjukan teater tidak lantas menjadi penyerahan mentah kepada kondisi “bermain peran” secara habis-habisan.

Teater merupakan sarana “menikmati peran” yang dilakukan secara rela demi suatu penghiburan. Rasanya hampa sekali ketika menciptakan sesuatu yang dahsyat namun tiada satu pun yang menikmatinya.

Di tengah pandemi ini, menjadi besar dan nyata adalah hasil dari suatu keteguhan. Sekarang bukan lagi soal siapa yang bisa mengungguli siapa, tapi sanggupkah kita mengalahkan ruang dan waktu untuk tetap menikmati degup teater yang nyata? (rkm//)

 

 

Share :

Berita Terkait

RasaKata

Kartini Inspirasi Milenial

RasaKata

Jalani Pancasila Seperti Air Mengalir

RasaKata

Politik Kita Tidak Didesain Untuk Melindungi Publik dari Covid-19

RasaKata

Toleransi dan Cinta Dalam Pandemi Corona

RasaKata

Sebuah Catatan Erlyando Saputra Tentang Refleksi Milad ke-73 HMI