Home / Rupa

Rabu, 8 Desember 2021 - 20:44 WIB

Komunitas Mawar Bebas Menghantam Sekat, Ajak Bersuara Lewat Karya Seni Rupa

ilustrasi

ilustrasi

Kaltimminutes.co, Samarinda – Ruang seni rupa semisal lukisan tak memulu soal goresan kuasa di atas kanvas. Melalui karya seni tersebut, para seniman mulai menyuarakan banyak hal seperti isu kemanusian, kesejahteraan, lingkungan hingga korupsi, kolusi dan nepotisme.

Hadir di Samarinda, komunitas Mawar Bebas asal Yogyakarta pada Rabu (8/12/2021) malam tadi membuka ruang galeri karya mereka dengan tajuk merawat ingat, menghantam sekat. Dalam kesempatan itu tak hanya memamerkan karya seni dari tangan mahir Munir sebagai kolektif Mawar Bebas.

Sebab para aktivis dan akademisi juga turut hadir membuka ruang diskusi bersama komunitas Mawar Bebas.

“Kalau bagi saya, seni itu adalah ruangan yang sangat luas. Seni itu adalah kemanusian itu sendiri. Dan kegiatan ini tentu bisa membangun kebiasaan baru di Samarinda. Karena seni itu cukup langka di Samarinda,” ungkap Irene Sartika dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman Samarinda.

Dengan hadirnya komunitas Mawar Bebas dan ruang diskusi, tentu membawa harapan bagi Irene untuk membuka khazanah dan pola pikir kritis para kaula muda.

“Dengan ada begini berarti kita (semua) bisa bersuara melalui seni. Meskipun gambaran itu sendiri tidak jelas. Tapi konsep seni itu sebagai bentuk perlawanan,” tegasnya.

Dengan adanya pameran seni rupa di ruang publik seperti kegiatan malam tadi, tentu juga diharapkan Irene agar banyak seniman di Kota Tepian yang mampu bergerak keluar dari zona nyamannya.

Baca Juga :  Paslon Peserta Pilkada Dilarang Masukan Foto Presiden dan Wakil Presiden Dalam APK, Ini Penjelasan Ketua KPU Samarinda

“Tentu juga kita harapkan agar para seniman keluar dari zona nyaman. Membawa karya seni ke ruang publik karena seni itu tidak harus dinikmati sendiri, di dalam kamar, diruangan mewah. Dan seni itu berbicara tentang kerakyatan, maka ayo kita bawa ke ruang publik,” tegasnya.

Sementara itu, Munir sebagai pelaku seni rupa menyampaikan rasa terimakasihnya karena mendapat kesempatan untuk hadir langsung di Kota Tepian. Sebab menurutnya, hadir secara nyata di wilayah yang memiliki momok kerusakan lingkungan, tentu bisa menjadi referensi bagi karya Munir ke depan.

Lebih jauh diungkapkannya, dengan ruang seni publik yang telah berlangsung diharapakan menjadi pemacu bagi para seniman lokal agar mampu dan berani unjuk gigi di ruang terbuka.

“Ada potensi besar buat seniman lokal mengekspresikan karya mereka dan masuk ke ruang publik. Ini adalah kesempatan baik. Berbicara independen kita harus berkarya tanpa ada yang menunggangi. Kalau kebebasan bersuara bisa dilakukan, ya saya lakukan di seni itu. Kalau pengaruh seni dalam dunia sekarang itu adalah penanda sebuah peradaban,” bebernya.

Menyinggung tentang isu kerusakan dan pencemaran lingkungan yang dikolaborasikan dengan karya seni rupa, Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang menuturkan jika kehadiran seni di ruang publik ada titik kilas balik yang harus terus diperjuangkan.

Baca Juga :  Dapat Suntikan Vaksin Kedua, Sabani Akui Tak Merasakan Efek Samping

“Ini tentu menjadi kilas balik bahwa seni itu hadir untuk menyuarakan penderitaan rakyat. Mulai dari krisis kemiskinan, ancaman ruang hidup, kerusakan dan pencemaran lingkungan, apalagi tentang kemakmuran. Itu harusnya diwakilkan pada ruang yang tidak disentuh yakni ruang seni,” harap Rupang.

Hadirnya komunitas Mawar Bebas di Kota Tepian ini juga dirasa Rupang menjadi triger yang sangat dibutuhkan, agar mengasah pikiran kritis para penerus bangsa.

“Akhirnya kita tertolong, mereka (Mawar Bebas) bisa menjadi referensi sebuah prakarsa cerdas dan Kaltim harus bisa. Kita sadar seharusnya seni itu menjadi alat perjuangan tapi banyak sisi yang memunculkan seni bukan sebagai alat perjuangan. Dan ini mengingatkan itu semua kembali,” tekannya.

Turut menambahkan, Hendiansyah Hamzah alias Castro yang juga dosen di Fakultas Hukum, Universitas Mulawarman jika pameran seni rupa seperti ini harusnya mampu mendapat dukungan semua kalanhan.

“Kenapa? Karena seni itu merupakan wadah untuk menyampaikan ekspresi, terutama yang berkaitan dengan beragam problem yang tengah dihadapi rakyat. Di antaranya soal korupsi dan kasus-kasus pelanggaran HAM yang tidak kunjung mampu dituntutaskan oleh negara. Kalau kita melihat karya kawan-kawan Mawar Bebas ini, semua mengandung pesan perlawanan. Mengajarkan kita agar tidak berdiam diri terhadap penindasan dan ketidakadilan. Sebab seni itu tidak berada diruang hampa, tapi memiliki keberpihakan,” tutup Castro. (*)

Share :

Berita Terkait

Ringan

Terima Kasih Tenaga Medis

Rupa

Hasil Tes PCR Lima Sapi yang Terindikasi PMK Negatif, DPKH Tegaskan Kaltim Masih Zona Hijau

Rupa

Cap Go Meh, Kemeriahan Kala Bersyukur